
Di balik semilir angin laut dan deburan ombak yang menenangkan, tersimpan ancaman sunyi yang mengintai kesehatan warga pesisir. Bukan badai besar atau pasang air laut (rob), melainkan gigitan nyamuk kecil bernama Aedes aegypti.
Wilayah pesisir, dengan tingkat kelembaban udara yang mencapai angka tinggi, secara alami menjadi “surga” bagi perkembangbiakan nyamuk pembawa virus Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun hal ini tidakperlu terlalu dikhawatirkan jika kita mau bergerak bersama untuk memastikan pesisir tetap menjadi tempat yang aman untuk ditinggali.
Berbeda dengan wilayah perkotaan, pencegahan DBD di kawasan pesisir menghadapi tantangan geografis yang unik dimana. Genangan air hujan pada sela-sela perahu nelayan, ban bekas yang dijadikan sandaran dermaga, hingga drum-drum penyimpanan air bersih yang tidak tertutup rapat, kerap menjadi titik lengah. Ditambah lagi banyaknya pohon kelapa yang ada ditepian pantai dimana seludang yang jatuh seringkali menampung air satt musim hujan. Nyamuk DBD itu suka air bersih yang tergenang. Di sini, kalau kita tidak rajin menutup drum penampungan air tawar untuk melaut, membakar seludang yang jatuh maka jentik cepat sekali muncul.
Merespon ancaman tersebut, kita dapat menerapkan strategi pencegahan yang lebih agresif dan terintegrasi. Gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang) dalam hal ini dapat diwujudkan melaui:
- Audit Jentik pada Armada Laut: Nelayan kini diimbau melakukan pemeriksaan rutin terhadap genangan air di dalam kapal sebelum dan sesudah melaut.
- Aksi “Pantai Bersih, Udara Sehat”: Gerakan bersih-bersih sampah plastik di sepanjang garis pantai yang dilakukan setiap akhir pekan guna menghilangkan potensi sarang nyamuk.
- Bio-Lokal: Penggunaan ikan lokal sebagai pemakan jentik di penampungan air besar yang sulit dikuras setiap hari.
Kunci keberhasilan dari seluruh strategi ini adalah peran Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang melibatkan selurah masyarakat untuk secara sadar memantau kebersihan lingkungan masing-masing. Harus senantiasa kita bahwa mencegah lebih murah daripada mengobati. Tanpa partisipasi aktif warga untuk menjaga kebersihan lingkungan, pengasapan (fogging) hanya akan menjadi solusi sesaat yang tidak menyentuh akar masalah.
